Minggu, 26 September 2010

RESENSI NOVEL JALAN TAK ADA UJUNG


Resensi novel jalan tak ada ujung


judul buku: jalan tak ada ujung
pengarang: motchar lubis
tebal buku: VI+167 hlm
penerbit : yayasan obor indonesia




SINOPSIS
Hujan gerimis menambah senja lekas menggelap. Guntur menghempas hempas di ujung langit, dan cahaya kilat memancar mancar. Terang yang ditimbulkan amat cepat diganti oleh gelap yang lebih pekat. Jalan jalan kosong dan sepi. Beberapa orang bergegas lari dari hujan. Dan lari ancaman yang telah lama memeluk seluruh kota.
Sebuah truk penuh berisi serdadu serdadu bermuka keras menderu di atas jalan jalan yang kosong. Patroli yang membelok ke kanan, terus, ke kiri, ke kanan, terus, dan terus, terus di jalan jalan yang sunyi, kosong dan sepi. Jalan dalam malam hujan gerimis gelap, jalan berliku tidak habis habisnya. Jalan tak ada ujung.


Novel tersebut menceritakan tentang kisah seorang guru, Isa namanya, yang ketakutan ketika masa masa revolusi. Karena Isa adalah seorang guru, oleh karenanya ia sangat di hormati oleh tetangga tetangganya. Akan tetapi statusnya seperti tidak memihak kepadanya, keadaan ekonomi keluarganya sangat kekurangan. Istrinya fatimah, harus kesana kemari meminjam uang untuk keperluan makan. Selain itu, ia pun harus menerima ketika ia tidak bisa memberikan kepuasan batin kepada istrinya untuk selamanya. Sehingga keharmonisan keluarganya semakin lama semakin berkurang. Kehidupannya selalu di landa ketakutan. Setiap hari, setiap malam, dan setiap saat ia merasa was was ketika mendengar serdadu serdadu inggris menyerbu.
Ketakutannya berawak ketika guru isa sedang menuju ke sekolahnya yang ada di tanah abang. Ia mendengar tembakan untuk pertamakalinya di gang jaksa yang melepas kesunyian kala itu.
Guru isa kemudian bergabung dengan sebuah organisasi pemberontakan. Ia diajak oleh salah satu temannya Hazil yang sangat pintar bermain biola. Dengan sangat terpaksa ia menuruti apa kata temannya itu. Mereka kemudian bertugas untuk mengambil senjata dan granat tangan yang di simpan di daerah asam reges, setelah itu di simpan di manggarai, kemudian di selundupkan ke karawang. Penyelundupan itu berjalan mulus, meskipun menyisakan ketakutan pada guru isa.
Karena merasa tidak bisa dipuaskan secara batin oleh guru isa, irtrinya kemudian berselingkuh dengan teman guru isa sendiri, Hazil. Guru isa tahu akan hal itu tetapi ia memilih untuk diam.
Serdadu inggris kemudian meninggalkan indonesia setelah adanya perjanjian linggar jati. Akan tetapi, kondisi tersebut bukanlah sesuatu yang mengenakkan. Beberapa saat setelah kepergian serdadu inggris, serdadu belanda kemudian datang kembali ke indonesia.
Puncak pemberontakan mereka terjadi ketika guru isa, hazil, dan rakhmat, temannya merencanakan untuk menyerang serdadu belanda di sebuah bioskop bernama bioskop rex. Mereka melemparkan bom tangan di depan pintu masuk bioskop tersebut. Beberapa serdadu belanda terluka akibat ledakan bom tersbut. Setelah itu mereka bertiga pulang ke tempat masing masing dan tidak saling memberi kabar untuk selang waktu yang lama.
Hazil kemudian ditangkap oleh polisi militer, ia mengakui perbuatannya dan menyebutkan siapa saja yang terlibat dalam kasus itu. Tak lama kemudian guru isa menyusul hazil di tangkap polisi. Mereka berdua disiksa karena mereka tidak mau mengaku dimana rakhmat bersembunyi.


KELEBIHAN BUKU
Ceritanya benar benar realis, penggambaran tokoh tidak secara langsung tetapi sangat jelas perbedaan antar perbedaan antara tokoh satu dengan tokoh lain. Setingnya dibuat sedetil mungkin.


KEKURANGAN BUKU
Pemilihan bahasanya sederhana


KOMENTAR
Seting pada novel tersebut sangat jelas menggambarkan bagaimana keadaan paska kemerdekaan. Setiap konflik digambarkan dengan terinci dari penyebap konflik, klimaks, dan ending. Novel ini layak di baca oleh semua orang, ceritanya menarik dan bahasa yang digunakan sederhana sehingga mudah dicerna oleh pembaca.


UNSUR INTRINSIK
Tema: perjuangan guru isa pada masa revolusi
Tokoh
1. Guru isa
2. Pak damrah
3. Hazil
4. Semedi
5. Kamarudin
6. Hazil
7. Salim
8. Hamid
9. Zubair
10. Hamidy
11. Abdulah
12. Rakhmat
Latar:
di jakarta
Alur:
alur maju
Sudut pandang:
sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ke tiga
Gaya penulisan:
sesuai dengan EYD
Amanat:
berjuang demi kebenaran, jangan tergesa gesa apablla kita melakukannya. Karena kela kita meyakininya maka perjuangan yang kita inginkan tercapai.

1 komentar:

  1. sangaat bermanfat gan....
    terimakasih ataasss informasinya.....
    dtunggu gan kunjungannya di Welcome To My Blog™ l IZAL-INK™

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
"WELCOME TO GUDANG ARTIKEL - PENGUNJING YANG BAIK SELALU MENINGGALKAN KOMENTAR"